Select Page

Hi Semua…

Kejadian ini baru berlalu satu hari, namun wajah sumringah itu masih lekat di ingatan saya, saya yang pelupa.

Namanya wak Ucok, seorang loper koran. Usianya sekitar enam puluhan, di usianya yang tidak bisa dibilang muda itu tidak membuatnya surut mencari nafkah. Walau kadang saya lihat peluh membasahi bajunya namun ia tetap semangat menjual koran.

Mungkin beberapa bulan yang lalu saya tidak ingat persis, saya melihatnya terduduk pucat. Saya menanyakan ada apa gerangan? Ternyata sedari pagi dia belum sarapan, mungkin kadar gulanya turun membuat keringat dingin bercucuran di sekujur tubuhnya, pucat sekali dia saat itu, syukurlah setelah meminum teh manis hangat dan beristirahat dia pun mulai tampak segar.

Pernah juga dagangannya yaitu tumpukan koran diambil orang, panik sekali dia saat itu maklum keuntungan berjualan koran ini sedikit bila ia harus mengganti harga puluhan koran yang dicuri itu tentu tidak sebanding, namun Allah maha melindungi Alhamdulillah tumpukan koran itu ditemukan di lantai delapan yaitu satu lantai di atas tempat saya bekerja lagi-lagi wak Ucok diselamatkan.

Jumat sekitar pukul sepuluh beliau datang ke lantai tujuh, menemui teman saya yang merupakan langganan wak Ucok membeli koran NOVA.

Sembari menyerahkan koran kesayangan teman saya itu wak Ucok pamit “Bu, saya izin tidak mengantar NOVA lima minggu kedepan jadinya Ibu ketinggalan lima seri”

Kenak apa wak?” Tanya teman saya yang maksudnya kenapa, bahasa Medan kenak apa.

“InsyaAllah senin depan saya sudah di asrama haji kemudian berangkat.” jelas wak Ucok dengan senyum sumringah, jujur saat itu saya terharu sekali apalagi saya orangnya sentimentil.

Doa pun langsung membanjiri wak Ucok supaya ibadahnya lancar dan kembali ke Medan dengan selamat juga tak lupa minta didoakan supaya bisa segera menyusul menunaikan rukun islam ke lima tersebut.

Di dalam hati di saat yang sama saya merasa beruntung sekali wak Ucok dipilih Allah untuk bisa berangkat haji, padahal keuntungan berjualan koran itu sangat sedikit dan saya tahu tidak semua yang membeli koran wak Ucok membayar kontan. Kebanyakan berhutang entah kapan membayarnya karena seperti postingan saya sebelum-sebelumnya bahwa di tempat saya bekerja gaji dan uang bonus tidak lancar, bisa dikatakan tidak gajian tiga bulan bila dibayarkan pun hanya sebulan.

Dan saya tahu wak Ucok bukan tipikal orang yang marah-marah saat menagih hutang, bahkan lebih sering dia menunggu orang yang berhutang membayar tanpa menagihnya.

Bukan masalah hutang saja, bahkan ada yang sudah mengambil majalah KARTINI pada wak Ucok setelah selesai membaca dan itu dibawa pulang ke rumah lalu dikembalikan alasannya tidak jadi membeli. Mulanya wak Ucok mengatakan tidak bisa karena harganya lumayan mahal bagaimana menggantinya dan siapa yang mau membeli barang bekas. Namun sayang lebih galak pembeli yang mau membaca gratis ini, akhirnya wak Ucok pun mengalah dengan wajah kecewa.

Allah maha adil setiap kita diuji tentunya ada nilai dibalik itu semua, wak Ucok adalah salah satu manusia pilihan yang dapat berangkat di tahun ini di antara milyaran manusia di muka bumi. Beliau sungguh beruntung Allah sayang padanya dan memanggilnya untuk berangkat. InsyaAllah kita semua kaum muslimin juga dipanggil Allah untuk menunaikan ibadah ini Aamiin…

Terima kasih sudah berkunjung dan sampai jumpa di postingan selanjutnya.

Salam

@bundaqubeki